Ngaos : Maksud ngaos disini adalah mengkaji/membaca Al Quran. Bagi masyarakat cianjur khususnya yang beragama Islam dari jaman dahulu hingga saat ini kegiatan membaca Al Quran merupakan sebuah kewajiban. Dan karena ketaatannya terhadap Agama Islam, kegiatan tersebut bagi masyarakat cianjur telah menjadi bagian yang tidak lagi dapat dipisahkan dengan kehidupan sehari-hari. Tidak heran apabila dari kegiatan keagamaan tersebut banyak melahirkan santri maupun pondok pesantren diseluruh wilayah kabupaten cianjur yang terus berkembang hingga saat ini.
Selain itu juga Ngaos mempunyai arti mengkaji diri, dalam pengertian senantiasa mampu mengkaji diri sendiri.
Mamaos : lebih kurang berarti tembang sunda. Dan di cianjur dahulu lebih dikenal dengan mamaos cianjuran. Bila ditelaah lebih jauh lirik-lirik yang terdapat dalam mamaos cianjuran banyak mengandung maksa yang sarat dengan nilai-nilai filosofis. Baik yang menggambarkan hubungan manusia dengan sang Khaliq, maupun antar manusia, makhluk tuhan lainnya dan lingkungan pada umumnya. Hingga apabila kita mampu memaknai mamaos cianjuran secara utuh dan menyeluruh, akan sangat disadari bahwa betapa tidak ada artinya kita dihadapan Allah SWT. Betapa disadari bahwa betapa perlunya kita mengarungi lautan kehidupan yang bersifat sementara ini secara nyaman, tentram dan damai dengan sesama mahkluk hidup didunia . Dan karena kesadaran itu pula, niscaya akan membuat hati kita menjadi lembut dan penuh kasih sayang serta berbagai kebajikan lainnya.
Maenpo : Sebuah istilah bagi orang cianjur yang berarti pencak silat. Olah raga bela diri ini, dahulu dikenal juga dengan istilah amengan. Selain sebagai olah bela diri juga merupakan hiburan bagi kalangan tertentu. Namun apabila ditelaah lebih jauh, Menpo juga mengandung makna yang sangat dalam sebagai salah satu pilisofis urang cianjur. Antara lain misalnya dalam jurus liliwatan, mengandung makna bukan saja membela diri dengan menghindarkan diri dari serangan lawan. Tetapi lebih jauh kita harus mampu menghindarkan diri dari segala sesuatu yang berbau maksiat atau hal negative lainnya.
Sumber : Lembaga Kebudayaan Cianjur