Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah SWT. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram (QS : Ar ’rad 28)
Ada seorang sahabat yang menjadi pengamat dan mencermati proses-proses kelahiran manusia. Setelah pergi ke banyak negara dan menyaksikan demikian banyak kelahiran bayi ternyata disemua kelahiran sama: bayi menangis dan tangisannya hampir semua sama. Entah itu di Eropa, Amerika, Australia sampai dengan Asia semuanya bermuara pada hal serupa ini. Sehingga menimbulkan pertanyaan, “Apa tanda-tanda kehidupan yang bersembunyi di balik semua ini?”
Tentu sangat terbuka peluang untuk lahirnya berbagai penafsiran dari sini. Dan seorang sahabat berbisik, “Kalau bayi lahir mengangis adalah tanda-tanda awal dari penderitaan. Mau lahir di keluarga kaya, berlimpah cinta sampai dengan yang disebut sempurna, tetap saja manusia tidak lepas dari penderitaan.” Paling tidak pasti kena sakit, umur tua dan ditakut-takuti kematian. Dan tangisan yang serupa menunjukan bahwa ini terjadi disemua tempat dan waktu.
Dan telah menjadi penomena global masyarakat dunia sekarang ini sulitnya untuk mendapatkan ketenangan jiwa. Malah sebaliknya yang sering kali kita dengar betapa maraknya orang-orang yang stress, sakit jiwa, petaka alam, peperangan bahkan makin tingginya orang bunuh diri. Ketenangan jiwa seolah menjadi barang yang mahal dan langka untuk didapatkan.
Mengapa ketenangan jiwa diperlukan oleh manusia? Sebagai makhluk yang eksistensinya berbeda dengan makhluk hidup lainnya tentunya manusia mempunyai akal pikiran yang selalu berupaya agar kehidupan ini memberikan kemudahan, ketenangan dan kepastian untuk bertahan hidup. Dengan melalui ketenangan jiwa inilah seluruh potensi manusia akan muncul dan berguna dalam mengisi hal-hal yang bermanfaat.
Banyak orang berusaha mengumpulkan sebanyak-banyaknya harta dengan tujuan agar segala sesuatunya bisa dibeli dengan mudah dan akan mendapatkan ketenangan, namun apa yang diperoleh justru sebaliknya. Di kejarnya kekayaan, jabatan dan popularitas yang terjadi malah kecemasan yang bertambah dan terus merasa kurang.
Banyak harta yang kita miliki tidak pernah membuat kita merasa cukup menjadi ”kaya” dalam arti yang sesungguhnya. Mari kita luruskan pengertian mengenai orang ”kaya”. Orang yang kaya bukanlah orang yang memiliki harta benda banyak, tetapi orang yang dapat menikmati apapun yang dimilikinya tanpa merasa terikat pada kepemilikan barang-barang itu.
Letakkan kecintaan terhadap kekayaan ataupun terhadap makhluk ”di tangan” dan letakkan kecintaan pada khaliq, pencipta alam semesta ini ”di hati”, niscaya anda tidak mudah stress ataupun kecewa. Inilah kekayaan jiwa! Sekali hati kita diisi oleh selain Allah, niscaya hati kita akan mengalami kecemasan, karena Allah tidak mau diri-NYA disekutukan.
Sumber : Bulletin Tafakuran