Dizqi Rockz Forum :: Daftar forum yang dikirim berupa artikel atau pesan pendek berikut komentarnya.
KATAGORI
DETAIL FORUM
20090103092252, Dibaca : 723 Kali Share

"Kami Seperti Hidup Dalam Mimpi Buruk"

SAAT pengeboman di Jalur Gaza terus berlanjut dan jumlah korban meningkat, stasiun TV berita internasional Al Jazeera menanyai sejumlah warga Gaza tentang situasi mereka dan bagaimana pengeboman itu berdampak pada kehidupan mereka. Berikut pendapat mereka:

Majed Badra (23), Kota Gaza, kartunis dan mahasiswa Universitas Islam

Sialnya, situasi di Kota Gaza sungguh buruk. Israel menyerang lebih banyak organisasi, rumah, dan masjid. Kampus saya dibom semalam.

Tak ada yang bekerja di Gaza. Kami hanya tinggal di dalam rumah. Setiap keluarga di Gaza melakukan hal yang sama, tinggal di dalam rumah, mendengarkan serangan udara, mendengarkan berita, mendengarkan di mana pasukan Israel menyerang, mendengarkan F16 dan Apache, dan menunggu apa yang akan terjadi.

Kami tidak menyiapkan diri untuk berperang. Mereka menyerang orang-orang sipil dan anak-anak serta tidak peduli apakah yang diserang itu bersenjata atau tidak.

Kemarin, rumah kakak saya hancur akibat serangan yang dilakukan Israel terhadap target yang terletak tak jauh dari rumah kakak saya. Semua ruangan rusak kecuali dapur, tempat dia dan anak-anaknya bersembunyi. Allah melindungi mereka.

Dunia melihat orang Palestina yang tidak bersenjata seperti mereka melihat bangsa dengan tentaranya, seolah-olah kekuatannya sepadan dengan Israel, tetapi itu tidak benar. Mereka berpikir kami memiliki roket yang sebenarnya yang bisa menimbulkan kerusakan besar, tetapi itu tidak benar. Kami tidak punya apa-apa.

Sebentar lagi saya ujian. Saya ingin belajar, tetapi situasinya tidak memungkinkan. Jadi, serangan itu berpengaruh terhadap masa depan saya, masa depan semua mahasiswa di sini.

Kenapa Israel menyerang kampus saya, masjid-masjid, dan rumah-rumah? Saya tidak tahu jawabannya. Anda yang harus bertanya pada mereka.

Hari-hari yang akan datang tampaknya akan semakin buruk. Israel akan membawa lebih banyak dan lebih banyak lagi kematian.

Nida` Aniss Abu al-Atta (26), Kota Gaza, petugas projek

Pertama, serangan Israel tidak diharapkan oleh orang-orang normal. Kami sangat kaget dan selama beberapa menit tidak sadar apakah militer Israel yang baru saja menyerang Gaza.

Anak-anak berpikir, mungkin itu bentrokan baru antara pendukung Hamas dan Fatah. Mereka takut dan mulai menangis serta berlarian kepada ibunya.

Saya dan keluarga sangat marah, percaya bahwa tidak ada seorang pun yang berusaha mencegahnya.

Saya marah dengan masalah internal Palestina. Mereka tidak mampu menunjukkan persatuan, bahkan sebelum terjadi tragedi ini.

Saya benci cara para pemimpin Hamas yang mencoba merefleksikan keinginan warga dengan mengklaim bahwa warga dapat menghadapi mesin perang Israel yang mengerikan. Saya tidak bisa mengharapkan apa-apa kepada komunitas internasional, dunia Arab, dan orang-orang Islam. Mereka hanya berteriak-teriak dan membakar bendera.

Bagaimanapun, saya merasa sekarang ini adalah situasi yang normal. Rasanya aneh kalau tidak ada martir, tidak ada helikopter di udara atau pesawat pengintai di langit Gaza.

Hamoudi, Tal el Hawa

Lebih dari tiga bangunan hancur di dekat rumah saya. Dua tetangga saya tewas ketika sedang pulang dari sekolah. Keduanya, Yasmeen (16) dan Haneen (15), adalah gadis yang tidak berdosa.

Kami tidur jauh dari jendela dan dalam kegelapan. Hasilnya, kami semua masih hidup. Hidup adalah sesuatu yang bernilai dan berharga untuk diperjuangkan.

Apa yang saya saksikan saat ini adalah saat kebenaran pergi. Saya beri tahu, semua ini terjadi pada abad ke-21 dan seluruh dunia menyaksikannya tetapi tetap membisu.

Betapa murahnya darah orang-orang Palestina.

Amin Asfour, Kota Gaza, dokter di rumah sakit umum

Setiap orang tinggal dalam ketakutan. Anda tak akan tahu giliran siapa sekarang. Kami hanya menunggu bom berikut jatuh dan apakah akan menimpa kami atau tetangga kami. Kami tidak takut bom jatuh. Yang kami cemaskan adalah siapa korbannya.

Ghada Snunu (30), Kota Gaza, pekerja hak asasi

Apa yang terjadi di sini tak bisa dipercaya, ini mengejutkan, suatu malapetaka. Apa yang terjadi di sekitar kami membuat kami seperti hidup di dalam mimpi buruk.

Saya mengkhawatirkan diri sendiri, keluarga, dan orang-orang. Sepanjang umur saya, tidak pernah merasakan perasaan seburuk ini.

Anak-anak saya, keponakan laki-laki, dan keponakan perempuan, mereka semua ketakutan. Mereka bersembunyi di bawah tempat tidur, mengerikan, dan saya tidak dapat melakukan apa pun untuk menolong mereka kecuali menyanyikan kata-kata yang menenangkan mereka. Akan tetapi, tidak ada yang dapat menolong mereka dalam situasi seperti ini.

Kami membutuhkan aksi serius sekarang untuk menyudahi kekerasan yang menimpa saudara-saudara kami. Saya marah kepada dunia--kami tidak mendengar apa-apa kecuali omong kosong yang tidak mengubah apa pun.

Kami semua di Gaza hidup seperti binatang. Bahkan, binatang hidup dalam kondisi yang lebih baik. Kami tidak punya cukup obat, makanan, gas, bahan bakar, dan listrik.

Awalnya saya mengira Israel hanya menargetkan Hamas. Tetapi kemudian saya melihat rumah-rumah dan bangunan lain, serta jalan dirusak dan orang-orang yang tidak berdosa dibunuh dan dilukai. Sekarang saya berpikir, Israel menargetkan Gaza, bukan Hamas. (A-95/Aljazeera.net)***

   
   
   
© 2006-2009 Cianjur Online
about us - services - site map