SEPERTI yang kita tahu, Indonesia yang kaya ini memiliki potensi sangat besar dalam segala sektor. Mulai dari sumber daya alam, budaya, adat-istiadat, hingga pariwisata. Namun, semua itu belum digali dan dikelola dengan baik.
Pada dasarnya banyak komoditas pertanian primer, seperti beras, kopi, kelapa sawit, kedelai, di Indonesia dapat diupayakan mencapai swasembada. Lantaran tidak dikelola dengan baik, akhirnya impor kerap menjadi pilihan terakhir, termasuk impor budaya. Acap kita juga tidak berdaya menghadapi serbuan produk pertanian impor dari negara lain yang harganya lebih murah dengan kualitas lebih bagus.
Bila dicermati, petani yang berada di luar negeri itu memiliki perlindungan dan fasilitas dari pemerintah seperti subsidi, insentif, dan stimulus ekonomi, meskipun masyarakat petaninya minoritas. Sebaliknya di Indonesia yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani, sektor ini kurang diperhatikan.
Pada 1923, Perhimpunan Indonesia (Indische Vereeniging) mengeluarkan pernyataan bahwa tiap warga Indonesia harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencapai tujuan bangsa dengan kekuatan dan kemampuannya sendiri terlepas dari bantuan orang lain. Kita juga dapat mengambil contoh perkataan Wakil Presiden Indonesia pertama, Bung Hatta, "Dengan memakai prinsip nonkooperatif, suatu kebijaksanaan menyandarkan diri pada kekuatan sendiri, yaitu suatu kebijaksanaan berdiri di atas kaki sendiri akan mengumandangkan perasaan hormat pada diri sendiri ke dalam kalbu rakyat Indonesia. Sebab hanya suatu bangsa yang telah menyingkirkan perasaan tergantung saja yang tidak takut akan hari depan. Hanya suatu bangsa yang paham akan harga dirinya maka cakrawalanya akan terangbenderang."
Nah, tampaknya hal inilah yang belum terserap benar di kalbu bangsa ini. Nilai-nilai luar dengan bangga kita terima sebagai suatu hal baru yang selalu baik. Lihat saja Jakarta.
Sebagai pusat pemerintahan dan pusat kegiatan ekonomi, pembangunannya belum merata. Para pengusaha hanya mengambil keuntungan semata dari sifat konsumtif dan latah bangsa ini dengan hanya membangun mal-mal yang menjamur di mana-mana. Seharusnya kita bisa berkaca pada negara tetangga seperti Thailand yang mulai membangun negaranya dengan tetap menjaga keseimbangan sosial, ekonomi, budaya serta nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat di tengah arus informasi global saat ini.
Selain Thailand, jejak negara yang juga patut dicontoh adalah India. Mahatma Gandhi memotivasi dan menerapkan rakyatnya untuk menggunakan produk dalam negeri dan tidak boleh ada produk impor melalui slogan swadesi (kemampuan memenuhi kebutuhan sendiri) dan itu masih dipegang kuat hingga saat ini.
Karena itu, sebagai masyarakat Indonesia marilah kita mulai dari individu masing-masing dan mengajak lingkungan sekitar untuk mencintai dan menggunakan produk dan budaya negara kita sendiri. Kita tidak akan bergantung lagi dengan produk asing, karena kita percaya bahwa kita mampu memproduksi hasil sumber daya alam dengan kualitas yang lebih baik juga