Pyan82 Forum :: Daftar forum yang dikirim berupa artikel atau pesan pendek berikut komentarnya.
KATAGORI
DETAIL FORUM
20080318123346, Dibaca : 208 Kali Share
GEMAH RIPAH LOH JINAWI Alam Indonesia begitu subur, saking suburnya, tongkat kayu dan batu saja bisa jadi tanaman. Tak perlu susah-susah menangkap ikan karena ikannya justru yang menghampiri, tenang tak ada badai, teduh tak ada topan. Begitu kata lagunya Koes Plus yang berjudul “Kolam Susu.” Lagu yang lebih tepat diberi judul “Nina Bobok.” Begitu kayanya alam kita, sehingga kita tidak perlu repot-repot menanam kedelai untuk membuat tempe-tahu, impor saja. Lautan kita begitu melimpah hasilnya, sampai-sampai para nelayan kita tak sempat membuat rumah yang layak huni. Pandai-pandai penduduknya sampai-sampai lupa memikirkan bangunan sekolah yang sudah hampir roboh. Hasil minyak bumi yang begitu melimpah membuat bangsa-bangsa lain berebut menandatangani kontrak pembelian yang membuat rakyat berduyun-duyun datang ke pangkalan-pangkalan minyak tanah, antri ber jam-jam untuk membuktikan bahwa masih ada sisa untuk bangsanya. Kebun sawit yang luas membentang mendatangkan dollar namun harga dalam negeri menjadi sulit dikejar, peternak kewalahan memberi pakan bagi ternaknya, pedagang banyak ditinggalkan pembelinya, pengajar banyak ditinggalkan pelajarnya karena tak mampu membayar uang sekolahnya yang (katanya) gratis. PENDUDUK YANG RAMAH-TAMAH DAN BERBUDI LUHUR Indonesia (katanya) dikenal dengan penduduknya yang ramah-tamah, berbudaya tinggi, dan berakhlak luhur. Kebenaran tentang hal itu bisa kita saksikan melalui siaran televisi setiap hari, boleh pagi, siang, sore, maupun malam (pada acara berita). Saking ramahnya, pelajar tawuran dianggap biasa-biasa saja, mahasiswa tawuran, wajar saja, apalagi kalau aparat yang tawuran, jamak lah? Berbudaya tinggi, saking tingginya, aib orang disebarluaskan melalui mass media dan justru mendapat rating yang tinggi dari pemirsanya. Kakek memperkosa cucu, cucu memperkosa nenek, penyerobot tanah yang lebih galak dari pemiliknya, pemanfaatan lahan kosong di atas trotoar dan got menjadi kantor, bantaran sungai yang berubah menjadi pemukiman, jalan raya yang berubah fungsi menjadi sungai, pengamen jalanan yang dikatakan seniman. Ah, masih banyak lagi kebudayaan kita yang tinggi itu, termasuk budaya memark-up nilai proyek (biar kelihatan menjadi proyek besar), menerima uang pelicin (agar biaya pembelian sabun untuk keperluan rumah-tangga terpenuhi sudah), menebang pohon yang sudah besar di hutan lindung (biar sinar matahari sampai ke tanah), dan budaya yang paling tinggi adalah korupsi (budaya mencari hadiah). Indonesia juga dikenal dengan negara yang berakhlak luhur, agamis, dan religius. Betapa tidak, prinsip “buang yang buruk ambil yang baik” masih banyak dianut penduduknya. Datang ke mesjid dengan sandal yang buruk, dan pulang membawa sepatu yang baik. Di lain hal, saking agamisnya, mereka berusaha merusak, menyerang, bahkan tega membunuh orang-orang yang memiliki keyakinan yang berbeda (mungkin agama mereka mengajarkan itu). Saking religinya, mereka berpenampilan seperti tokoh-tokoh agama yang mereka anut di manapun mereka berada (hanya penampilan kulitnya saja). Anehnya, kadang mereka bangga bila ada orang lain merasa “ngeri” melihat dia dan kelompoknya, atau mereka bangga bisa membajak dan memperbanyak karya orang lain tanpa haknya. SEMOGA TUHAN MENGIJINKAN BANGSA INI MENJADI BESAR Tuhan selalu memberi ijin, karena Tuhan memang Maha Berkehendak, adakah satu hal sekecil apapun yang ada di alam semesta ini di luar kehendak Tuhan ?, tidak, semua terjadi atas kehendakNya. Artinya, jika bangsa ini semakin kerdil, itu juga karena ijin dan kehendakNya. Manusia (dan profesinya) adalah “kepanjangan tangan Tuhan” untuk mengurusi dunia ini (disebut dengan “khalifah”), dengan demikian, setiap kita adalah wakil (sifat) Tuhan dalam urusan dunia (profesi) kita. Hakim, Jaksa, Pembela, Pengawas, dan Aparat Penegak hukum lainnya, mereka yang berprofesi di bidang hukum ini harus mewakili sifat Adil dan Bijaksananya Tuhan. Bila ada (sekarang lagi ramai dibicarakan) jaksa yang disogok untuk membuat keputusan yang tidak adil dan tidak bijaksana, maka Tuhan mengijinkannya sebagaimana Tuhan mengijinkan iblis menggoda manusia. Namun, sistem Tuhan tetap berlaku, setiap perbuatan baik ada imbalannya, begitu juga setiap perbuatan buruk, ada balasannya. Profesi ini tampak amat lemah karena tidak dijalankan sebagaimana mestinya, mungkin di Indonesia, profesi ini (kini) seharusnya berada di bawah Departemen Perdagangan. MENDUNG DUKA MASIH TERUS MENYELIMUTI NEGERI INI Bila mendung yang datang semata untuk menurunkan hujan agar bumi ini menjadi subur, itu mendung rahmat namanya. Tapi, mendung yang datang tak henti-hentinya menurunkan hujan dan mendatangkan badai serta mengakibatkan bencana di sana sini, mendung duka namanya. Pemerintah bisa saja berkilah, ini karena efek pemanasan global, ini merupakan fenomena alam yang tidak bisa kita tentukan atau kita prediksi. Sah-sah saja kilahan tersebut, tetapi Tuhan tidak menciptakan manusia dan alam melainkan ada keterkaitan di dalamnya. Sederhana saja, berapa banyak daerah resapan air yang dialihfungsikan ?, berapa banyak pembangunan yang tidak dilakukan dengan analisis dampak lingkungan ?, berapa banyak kawasan hutan yang menjadi tandus ?, berapa banyak areal persawahan yang subur berubah menjadi pemukiman ?, berapa banyak pembangunan infrastruktur yang tidak sesuai dengan persyaratan teknisnya ?, dll., dll., dll.. Memang, yang menjadi korban terberat selalu saja orang miskin. Kemiskinan dekat dengan penyakit, kemiskinan dekat dengan kelaparan, kemiskinan dekat dengan bencana, kemiskinan dekat dengan kelemahan, kemiskinan dekat dengan kebodohan, kemiskinan dekat dengan kedukaan, kemiskinan dekat dengan kekufuran, dekat?, dekat?, dekat?. Ingat peristiwa kematian seorang ibu dengan dua anaknya karena kelaparan di Makassar ?, ingat berita tentang kasus-kasus busung lapar dan kurang gizi yang terjadi di banyak tempat di Indonesia ?, masih suka melihat siaran televisi tentang bencana banjir di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan di berbagai tempat lainnya ?. Masih mendengarkan berita tentang lumpur Lapindo ?. Duka masih terus menyelimuti negeri ini. Di lain hal, masih suka mendengar berita pembagian harta gono-gini yang mencapai miliaran bahkan ada yang triliunan ?, masih suka mendengar seorang artis yang mendapat honor puluhan juta per episode ?, pernah mendengar pejabat yang membayar pajak tahunan ratusan juta ? pernah mendengar selebritis yang setiap liburan berwisata ke luar negeri nun jauh di sana ?. Semoga ada keterkaitan di antara mereka, si kaya membantu yang miskin, semoga ada kepekaan hati, empati dari orang-orang yang mampu kepada orang-orang yang sedang menderita. Semoga si kaya menjalankan fungsi Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang kepada masyarakat tak mampu agar alam kembali membawa curahan hujan kesejukan, bukan awan dan hujan bencana. SUMBER DAYA MANUSIA (SDM) Bila ditarik ke akar masalahnya, maka kelemahan bangsa kita terletak pada SDM-nya. Baik dari sisi pendidikan, sisi budi pekerti, maupun sisi kepemimpinan-nya. Dari sisi pendidikan, banyak Pejabat yang mengambil keputusan hanya berdasarkan “bisikan” atau “insting” semata tanpa didasari pengetahuan (science) dan fakta (data) di lapangan. Bisa jadi proyek konversi minyak tanah ke gas elpiji hanya menjadi proyek menghambur-hamburkan uang saja. Dari sisi budi pekerti, sulit mendapatkan sosok yang dapat dijadikan contoh atau panutan bagaimana harus berperilaku. Banyak pejabat yang korup, banyak tokoh agama yang hanya mencari popularitas dan dunia semata, banyak orang yang hanya manis di lidah. Bahkan sepertinya budi pekerti sudah tidak diperlukan lagi sehingga harus dibuang dari kurikulum di pendidikan dasar. Dari sisi kepemimpinan, banyak pejabat yang ditunjuk bukan karena keahliannya (menyalahi prinsip “man behind the gun,” “the right man on the right place”, bahkan berani menantang prinsip “bila sesuatu tidak diserahkan kepada ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya”). Bisa kita saksikan, susunan kabinet kita berubah-ubah tetapi orangnya itu-itu saja, apakah seorang menteri itu ahli di bidang transportasi sekaligus ahli di bidang kesekretariatan ?. Meskipun hanya jabatan politis, tentulah harus merupakan orang yang ahli di bidangnya (apalagi menentukan harkat hidup orang banyak). Mari kita berandai, “jika negara kita dipimpin oleh orang-orang yang tidak berpendidikan (bukan semata gelar lho), tidak memiliki budi pekerti yang baik (misal, ucapannya sering menyakiti hati rakyat), dan tidak dapat memimpin (misal, tidak memiliki prinsip),” apa jadinya ?. Tentunya, mendung duka tidak akan pernah pergi jauh. PENGENTASAN KEMISKINAN Selama masih banyak orang miskin di negeri ini, tentu negeri ini masih terus dekat dengan kesengsaraan (bencana). Kemiskinan memang sulit dientaskan selain ada orang kaya yang mau membantunya (sebagaimana orang bodoh tidak akan bisa pandai bila terus bergaul dengan orang-orang bodoh). Pria kaya setidaknya akan mencari pendamping hidup yang setara juga, kalau begitu pria miskin hanya akan mendapat wanita miskin, lalu memiliki keturunan yang (akan) miskin-miskin juga. Pengentasan kemiskinan (bukan berarti yang miskin harus dimusnahkan) harus melibatkan orang kaya, karena jalur pendidikan merupakan sarana yang paling tepat untuk berinvestasi dalam mengentaskan kemiskinan, namun seperti kita ketahui, pendidikan itu mahal. Tentu bukan hanya biaya pendidikan yang harus disiapkan, namun juga sarana dan prasarana yang dibutuhkan anak didik itu. Bisa jadi, anak didik itu tidak sekolah bukan semata karena orang-tuanya tidak mampu membayar uang sekolah saja, tapi lantaran ia harus membantu mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya. Pendidikan yang begitu pentingnya, luput (setidaknya belum dianggap penting) dari perhatian pemerintah. Anggaran pendidikan terus dihambat untuk mencapai 20% dari APBN. Sekolah-sekolah dasar banyak yang ambruk, guru-guru banyak yang mencari biaya tambahan dengan menarik ojek, menjadi pemulung, penarik becak, dan sebagainya. Di lain pihak, banyak penyelewengan atas bantuan operasional sekolah (BOS) yang tidak terdeteksi (atau sengaja tidak dideteksi). Biaya sekolah menjadi selangit yang sulit dijangkau orang-orang miskin, bahkan orang-orang yang belum miskin sekalipun. Kalau semua harus mengikuti “harga pasar” buat apa ada pemerintahan, jadikan saja semua departemen menjadi Departemen Perdagangan. Jadi, Departemen Pendidikan Nasional menjadi Departemen Perdagangan Pendidikan Nasional. Departemen Sosial menjadi Departemen Perdagangan Sosial, dst?? KESIMPULAN Saya malu jadi orang Indonesia yang kesannya brutal, garang, gahar, miskin, bodoh, primitif (kata Mandra), korup, penjual kecap nomor satu, dan kesan-kesan negatif lainnya. Namun, bagaimanapun juga saya tidak ingin menjadi warga negara lain, “dari pada hujan uang di negeri lain, lebih baik hujan batu di negeri sendiri.” Kemunafikan seperti ini yang tidak ada di negara lain.
© 2006-2009 Cianjur Online
about us - services - site map