Admin School
Username
Password
Lost Password?

Contact Support
Jl. Slamet Ryadi No. 32 Pamoyanan Cianjur 43211
Telp. : 081321109109
Email : info@cianjur-online.com

Didukung Oleh
Comlabs ITB
SMA Negeri 1 Cibinong Homepage
Artikel & Diskusi Selengkapnya...
Introspeksi Menyongsong Tahun Baru 2008

Sejarah pendidikan di Indonesia mencatat; telah terjadi perbedaan porsi kurikulum yang tajam antara pelajaran IPA dan IPS.
Sebelumnya dalam kurikulum pendidikan pernah terjadi; bidang IPS memegang 60% dan bidang IPA memegang 40%. Pada pengujung abad 20 persentase tersebut berbanding terbalik secara dramatis; yaitu 70% IPA dan 30% IPS. (Purwanto; 1998). Pesatnya perkembangan ilmu eksak dan teknologi mengukuhkan bahwa pelajaran ilmu-ilmu alam selalu mendapat persentase lebih besar dari pelajaran IPS. Kenyataan ini menjadi awal sebab dikotomi ekstrem antara pelajaran IPA dan IPS.
Hasil penelitian Soeparjo (1989) menunjukkan; ditemukan kecenderungan bahwa siswa beranggapan IPS merupakan bidang studi yang menjemukan dan kurang menantang minat belajar. Bahkan lebih dari itu; IPS dipandang sebagai kelas dua baik oleh peserta didik maupun oleh orang tua mereka. Maka; terjadi perlakuan diskriminatif terhadap pendidikan IPS yang menyebabkan semakin merosotnya citra pendidikan IPS. Secara konstruktif; perlakuan diskriminatif mengarah kepada perlakuan akademik; sampai puncaknya terjadi diskriminasi dalam memberikan penghargaan finansial.
Sekolah-sekolah jurusan IPS selalu mendapat raw input yang tidak berkualitas. Dampak lanjutannya; IPS kurang diminati peserta didik; menjadi kelas buangan; dianggap tidak menjanjikan secara finansial; dan kurang dihargai keberadaannya oleh siswa; guru; dan masyarakat. Siswa-siswi jurusan IPS selalu menjadi permakluman dan mendapat cap anak-anak badung; bodoh; dan nakal. Semua itu adalah dampak dari praktik diskriminasi yang terus dipertahankan.
Boleh jadi; ketika bangsa Indonesia dilanda krisis yang tidak berkesudahan adalah buah dari pendidikan yang tidak menghargai dan melecehkan pendidikan IPS. Bagaimana tidak; pada saat korupsi nomor satu di dunia; pada saat survei menunjukkan lembaga-lembaga negara seperti DPR; bea cukai; kepolisian; kejaksaan; berbagai departemen lembaga-lembaga terkorup; kenakalan remaja (geng motor); seks bebas; dan penyalahgunaan narkoba meningkat; munculnya kasus siswa bunuh diri dan guru bunuh siswa; pendidikan ilmu apa yang paling bertanggung jawab dalam masalah ini? Tentu; masalah ini sedikit sekali berurusan dengan ilmu alam dan teknologi. Secanggih apa pun teknologi dan hasil penelitian ilmu alam penggunaannya akan tetap kembali kepada manusia. Maka; seharusnya yang paling bertanggung jawab dalam masalah krisis multidimensional saat ini adalah pendidikan IPS.
Dalam IPS; objek kajian keilmuan 99% adalah manusia. Tujuan pendidikan nasional yang berupaya menciptakan generasi beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia merupakan bagian penting dari konsentrasi dari pendidikan IPS. Selanjutnya; pentingnya penanaman nilai-nilai antikorupsi untuk memerangi dan memberantas praktik korupsi; yang paling mungkin nilai-nilai antikorupsi ini diinternalkan dalam pendidikan IPS. Secara umum pendidikan IPS telah merangkum semua tujuan pendidikan nasional dengan mendidik peserta didik menjadi warga negara yang baik demi terciptanya masyarakat madani. Maka; idealnya; seorang yang telah diajarkan IPS adalah mereka yang tahu betul tentang bagaimana menjadi manusia.
Menyongsong Tahun Baru 2008; untuk memperbaiki kualitas bangsa; sudah sepatutnya para pengembang kurikulum dan pemegang kebijakan memikirkan sebuah sistem yang seimbang antara pengembangan ilmu alam; teknologi; dan IPS.
Penulis; guru sejarah di SMAN I Cibinong Cianjur Selatan; Pengurus AGP PGRI Jabar.

Oleh TOTO SUHARYA; S.Pd.; M.Pd.

Dibaca : 369 kali, Komentar : 1
Post by sman1cibinong - March-17, 2008
Artikel Lainnya...
HUBUNGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DENGAN PEMAHAMAN NILAI NILAI ISLAM DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH
Penelitian berjudul “Hubungan Pendidikan Agama Islam dengan Pemahaman Nilai-Nilai Islam dalam Pembelajaran Sejarah”. Di dalamnya menjelaskan tiga permasalahan; 1) hubungan ...

Dibaca : 1962 kali, Komentar : kosong
Setingkat di Bawah Nabi
KEDUDUKAN guru saat ini masih tetap menjadi kelas menengah pas-pasan yang selalu menjadi sasaran pelecehan sebagian masyarakat. Wajar jika Prof. ...

Dibaca : 479 kali, Komentar : kosong
Pengalaman Mengikuti Lomba Guru Berprestasi
Mengikuti lomba guru berprestasi ternyata bukan sekadar mencari juara. Walaupun hanya dilaksanakan tingkat kabupaten selama tiga hari; sesungguhnya waktu itu ...

Dibaca : 1096 kali, Komentar : kosong
Tak Lulus UN; Jangan Bersedih Muridku!
Oleh TOTO SUHARYA; M.Pd.

Kegagalan dalam ujian nasional bukan gagal yang sesungguhnya. Sebab; kegagalan sejati terjadi setelah ...

Dibaca : belum pernah, Komentar : kosong
SILAHTURAHMI
“ ASS ... Kumaha Daramang BARUDAK Meong 37 Sadayana ;;; GIMANA KLO KTA KOMPAKIN 2 HARI SETELAH LEBARAN KTA KUMPUL2 ...

Dibaca : 237 kali, Komentar : 2

Last Graduated
Nenden Mardiana
IPA - 2005
Abidin
IPS - 2005
© 2007beta, Cianjur-Online.com, Allright Reserved.