Admin School
Username
Password
Lost Password?

Contact Support
Jl. Slamet Ryadi No. 32 Pamoyanan Cianjur 43211
Telp. : 081321109109
Email : info@cianjur-online.com

Didukung Oleh
Comlabs ITB
SMA Negeri 1 Cibinong Homepage
Artikel & Diskusi Selengkapnya...
Pengalaman Mengikuti Lomba Guru Berprestasi

Mengikuti lomba guru berprestasi ternyata bukan sekadar mencari juara. Walaupun hanya dilaksanakan tingkat kabupaten selama tiga hari; sesungguhnya waktu itu cukup untuk mengukur dan mengevaluasi kinerja guru di lapangan.


Selama mengikuti lomba; kita diuji dalam berbagai kompetensi. Tahap pertama; kita memperkenalkan diri di depan peserta dan para juri tentang siapa; ide penting apa; dan atas dasar apa sehingga kita berhak diperhitungkan mengikuti lomba. Kedua; semua peserta mengikuti tes IQ; kemampuan akademik; bahasa Inggris; matematika dasar; dan bahasa Indonesia. Pengetahuan kita juga diuji tentang peraturan/perundangan pendidikan yang berlaku; kurikulum; pengelolaan kelas; dan pengembangan profesi.

Ketiga; peserta diuji secara lisan melalui wawancara tentang masalah-masalah pendidikan yang ada di sekolah dan masyarakat. Terdapat satu sesi wawancara dalam bahasa Inggris. Keempat; setiap peserta harus mempresentasikan karya tulisnya berupa makalah atau penelitian (action reseach); di depan tiga orang penguji. Setelah itu; kita tinggal berdoa dan menunggu hasil keputusan sidang dewan juri.

Jika kita terbiasa melakukan kegiatan; seperti melaksanakan penyusunan program pengajaran/praktik; melaksanakan penyajian program pengajaran; melaksanakan evaluasi belajar; melaksanakan analisis hasil evaluasi belajar; melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan program perbaikan dan pengayaan; maka 50% kita menguasai seluruh kegiatan lomba. Kemudian; 50% lainnya diisi dengan membaca vs menulis untuk mengetahui perkembangan dunia pendidikan dan meningkatkan kreativitas dalam bekerja.

Berdasarkan pengamatan penulis; rata-rata setiap guru memiliki kelebihan dan kreativitas dalam bekerja. Contoh; seorang guru SD menceritakan pengalamannya dalam menyelesaikan masalah pencurian uang yang kerap terjadi di kelas. Ternyata; masalah pencurian dapat diselesaikan dengan menggunakan sejenis permainan; yaitu main tebak-tebakan .

Ketika terjadi pencurian; semua murid dikondisikan berkumpul di ruang kelas seperti biasa; kemudian dua orang guru memanggil tiga orang siswa ke depan kelas. Guru menjelaskan kepada siswa; Silakan sentuh salah satu dari tiga orang anak di depan kelas ini; ibu/bapak akan menebak siswa yang mana yang disentuh oleh kalian. Terang saja; anak mana pun yang disentuh siswa lain akan diketahui guru. Sebab; guru sudah punya kode tersendiri. Bila guru yang satu bertugas menebak; maka guru yang lain bertugas mengomando. Komando tersebut berupa pernyataan yang sesunggunya berisi isyarat; Sudaaah...? Artinya nomor satu yang disentuh; Sudaah Pak...! Artinya yang tengah yang disentuh; Sudah Pak...” sambil menyebut nama gurunya. Itu berarti yang disentuh nomor ketiga.

Setelah puas main tebak-tebakkan dan anak-anak yakin bahwa guru bersangkutan bisa mengetahui tanpa melihat; kemudian guru yang bertugas mengomando menjelaskan kepada siswa bahwa guru penebak tadi memiliki indra keenam. Siswa diyakinkan bahwa ia bisa mengetahui perbuatan semua siswa walaupun tidak melihatnya. Guru itu juga mengetahui siapa anak yang suka mencuri uang di kelas.

“Maka; kalau kalian tidak ingin diketahui orang banyak; silakan uang dikembalikan ke rumah bapak/ibu; dan nama kalian akan dirahasiakan asal kamu benar-benar mengakui kesalahan dan bertobat kepada Allah;” kata guru tersebut dengan tegas. Hasilnya semua kasus pencurian (90%) dapat diselesaikan dan uang kembali.
Cerita ini memang sepele; tetapi pengalaman tersebut mengandung nilai kreativitas tinggi. Sebab; sebelumnya mungkin tidak terpikirkan oleh orang untuk menerapkan metode ini dalam menyelesaikan masalah pencurian uang di sekolah. Secara teoritis; metode tersebut sangat mungkin dilakukan di tingkat SD; mengingat proses berpikir anak masih sederhana dan terbatas pada hal-hal yang bersifat konkret. Sehingga tanpa berpikir panjang anak-anak SD bisa menerima bahwa guru yang bersangkutan memiliki indra keenam. Wallahu a'lam.

Oleh : Toto Suharya M.Pd - Guru Sejarah

Dibaca : 1096 kali, Komentar : kosong
Post by sman1cibinong - March-17, 2008
Artikel Lainnya...
HUBUNGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DENGAN PEMAHAMAN NILAI NILAI ISLAM DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH
Penelitian berjudul “Hubungan Pendidikan Agama Islam dengan Pemahaman Nilai-Nilai Islam dalam Pembelajaran Sejarah”. Di dalamnya menjelaskan tiga permasalahan; 1) hubungan ...

Dibaca : 1962 kali, Komentar : kosong
Setingkat di Bawah Nabi
KEDUDUKAN guru saat ini masih tetap menjadi kelas menengah pas-pasan yang selalu menjadi sasaran pelecehan sebagian masyarakat. Wajar jika Prof. ...

Dibaca : 479 kali, Komentar : kosong
Introspeksi Menyongsong Tahun Baru 2008
Sejarah pendidikan di Indonesia mencatat; telah terjadi perbedaan porsi kurikulum yang tajam antara pelajaran IPA dan IPS.
Sebelumnya dalam ...

Dibaca : 371 kali, Komentar : 1
Tak Lulus UN; Jangan Bersedih Muridku!
Oleh TOTO SUHARYA; M.Pd.

Kegagalan dalam ujian nasional bukan gagal yang sesungguhnya. Sebab; kegagalan sejati terjadi setelah ...

Dibaca : belum pernah, Komentar : kosong
SILAHTURAHMI
“ ASS ... Kumaha Daramang BARUDAK Meong 37 Sadayana ;;; GIMANA KLO KTA KOMPAKIN 2 HARI SETELAH LEBARAN KTA KUMPUL2 ...

Dibaca : 237 kali, Komentar : 2

Last Graduated
Nenden Mardiana
IPA - 2005
Abidin
IPS - 2005
© 2007beta, Cianjur-Online.com, Allright Reserved.