Admin School
Username
Password
Lost Password?

Contact Support
Jl. Slamet Ryadi No. 32 Pamoyanan Cianjur 43211
Telp. : 081321109109
Email : info@cianjur-online.com

Didukung Oleh
Comlabs ITB
SMA Negeri 1 Cibinong Homepage
Artikel & Diskusi Selengkapnya...
Setingkat di Bawah Nabi

KEDUDUKAN guru saat ini masih tetap menjadi kelas menengah pas-pasan yang selalu menjadi sasaran pelecehan sebagian masyarakat. Wajar jika Prof. Dr. H. Mohamad Surya (Ketua Umum PB PGRI-red.) tempo lalu melakukan protes karena merasa tidak rela guru dijadikan bahan guyonan satu iklan produk minuman.

Masyarakat sebenarnya memiliki persepsi bermacam-macam terhadap guru. Selain produk minuman; dalam salah satu iklan produk sampo; guru ditampilkan sebagai wanita energik yang duduk tidak senonoh di atas meja. Dalam sinetron-sinetron; guru digambarkan sebagai sosok bodoh yang mudah dikerjain muridnya.

Kejadian itu memang bukan yang pertama kali; kita masih ingat bagaimana iklan suatu produk melecehkan guru berdasarkan status ekonomi. Iklan itu menampilkan sosok guru berpakaian jas safari lengkap dengan sepeda kumbang sebagai wujud miskinnya guru.

Dari kejadian ini; kita bisa mengambil hikmah; untuk introspeksi ke dalam dan ke luar. Introspeksi ke dalam kita renungkan bagaimana sesungguhnya fungsi dan kedudukan guru di masyarakat. Ke luar kita harus sampaikan bahwa guru adalah sosok pendidik yang betul-betul punya harga diri; menjunjung tinggi kode etik; berkompeten di bidangnya sehingga layak untuk dihargai. Jangan sampai muncul berita-berita negatif di media masa seperti guru pesta seks; pesta sabu-sabu; mencabuli; memerkosa; dan menghamili anak didik; bahkan ada guru harus kena skors karena menampar 17 anak didiknya.

Fenomena munculnya iklan-iklan dan sinetron yang melecehkan guru tidak lepas dari rendahnya pemahaman masyarakat tentang profesi guru. Hal tersebut dipicu oleh beberapa faktor sebagai berikut: (1) Adanya pandangan masyarakat bahwa siapa pun bisa jadi guru; asal ia berpengetahuan walaupun tidak mengerti didaktik metodik; (2) Kekurangan tenaga guru telah memberikan peluang mengangkat seseorang yang tidak mempunyai kewenangan profesional menjadi guru; (3) Banyak tenaga guru sendiri yang belum menghargai profesinya sendiri bahkan rendah diri; (4) Rendahnya gaji guru; yang mengakibatkan pekerjaan guru dianggap kerja sampingan; tidak menjanjikan; dan tidak ubahnya seperti pekerjaan buruh (Nurdin; 2004).

Sesungguhnya; kedudukan guru menurut kacamata agama Islam sangat vital. Al-Ghazali berpendapat; barang siapa memilih pekerjaan sebagai guru; maka sesungguhnya ia memiliki pekerjaan yang penting.

Bahkan begitu pentingnya keberadaan guru di masyarakat; ajaran Islam menempatkan kedudukan guru setingkat di bawah nabi dan rasul. Hal tersebut berdasarkan kepada banyaknya hadis yang menghargai terhadap orang berilmu seperti tinta ulama lebih berharga dari darah syuhada. Orang yang berpengetahuan melebihi orang yang senang beribadah. Apabila meninggal seorang alim; terjadilah kekosongan dalam Islam yang tidak dapat diisi kecuali oleh orang alim pula.

Namun demikian; apabila dikaji lebih mendalam; guru memiliki kesamaan fungsi dengan nabi. Pada prinsipnya tugas para nabi diberitakan dalam Alquran adalah sebagai pemberi peringatan dan bukan orang yang berkuasa atas mereka (Al-Ghaasyiyah; 17-22); pemberi ingat dan pembawa kabar untuk kaum yang beriman (Al-A'raf:188). Atas dasar itu; tugas guru sebenarnya tidak lebih dari pemberi peringatan (nasihat dan bimbingan) kepada siswa agar berperilaku sesuai dengan aturan norma; nilai sosial-agama yang berlaku di masyarakat; dan memberikan kabar (mengajarkan) ilmu sesuai dengan bidangnya.

Perlu dicermati dalam ayat di atas bahwa; ”Kita bukan yang berkuasa atas mereka (murid-murid kita)”. Jadi; bukan hak guru menjadikan anak didik kafir atau beriman; sebab itu kehendak Tuhan.

Tuhan berfirman; ”Dan jikalau Tuhanmu menghendaki; tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” (Q.S. Yunus:99).

Oleh karena itu; dalam etika pendidikan; tindak kekerasan dan paksaan bagaimanapun tidak dapat dibenarkan.

Akhir kata; seandainya seorang guru atau masyarakat memahami kedudukan guru berdasarkan kesamaan fungsi di atas; guru akan sangat berhati-hati dalam bertindak dan berperilaku; profesional dalam mendidik; bertanggung jawab dan penuh dedikasi dalam bekerja. Satu penyimpangan dilakukan guru adalah sebuah pengkhianatan besar terhadap seluruh umat; dan pelecehan terhadap guru sama dengan pelecehan terhadap seluruh umat. Wallahu a'lam.

Oleh : Toto Suharya; M.Pd

Dibaca : 479 kali, Komentar : kosong
Post by sman1cibinong - March-17, 2008
Artikel Lainnya...
HUBUNGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DENGAN PEMAHAMAN NILAI NILAI ISLAM DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH
Penelitian berjudul “Hubungan Pendidikan Agama Islam dengan Pemahaman Nilai-Nilai Islam dalam Pembelajaran Sejarah”. Di dalamnya menjelaskan tiga permasalahan; 1) hubungan ...

Dibaca : 1962 kali, Komentar : kosong
Pengalaman Mengikuti Lomba Guru Berprestasi
Mengikuti lomba guru berprestasi ternyata bukan sekadar mencari juara. Walaupun hanya dilaksanakan tingkat kabupaten selama tiga hari; sesungguhnya waktu itu ...

Dibaca : 1098 kali, Komentar : kosong
Introspeksi Menyongsong Tahun Baru 2008
Sejarah pendidikan di Indonesia mencatat; telah terjadi perbedaan porsi kurikulum yang tajam antara pelajaran IPA dan IPS.
Sebelumnya dalam ...

Dibaca : 371 kali, Komentar : 1
Tak Lulus UN; Jangan Bersedih Muridku!
Oleh TOTO SUHARYA; M.Pd.

Kegagalan dalam ujian nasional bukan gagal yang sesungguhnya. Sebab; kegagalan sejati terjadi setelah ...

Dibaca : belum pernah, Komentar : kosong
SILAHTURAHMI
“ ASS ... Kumaha Daramang BARUDAK Meong 37 Sadayana ;;; GIMANA KLO KTA KOMPAKIN 2 HARI SETELAH LEBARAN KTA KUMPUL2 ...

Dibaca : 239 kali, Komentar : 2

Last Graduated
Nenden Mardiana
IPA - 2005
Abidin
IPS - 2005
© 2007beta, Cianjur-Online.com, Allright Reserved.